Friskasmile's Blog











{April 1, 2012}   masalah pada bts

ANALISA PROBABILITAS KETERSEDIAAN LINK ANTAR BTS DAN STO SECARA POINT TO POINT PADA KOMUNIKASI MICROWAVE LINK

Permasalahan:
a. Bagaimana menghitung jarak antar STO dan BTS.
b. Bagaimana menghitung sudut dan phsi antar STO dan BTS.
c. Bagaimana mendapatkan nilai redaman hujan yang efektif untuk memperoleh hasil yang efisien.
d. Bagaimana menampilkan informasi geografis dalam peta digital.

Solusi :
Jarak antar STO – BTS
Proses untuk menentukan jarak antar BTS dan STO terdapat 2 cara yaitu:
1. Praktek (Pengukuran menggunakan aplikasi google earth).
2. Teori (Perhitungan menggunakan aplikasi Matlab).

Proses pertama adalah dengan cara praktek / pengukuran menggunakan aplikasi yang menyediakan informasi jarak dan sudut dari STO ke BTS atau sebaliknya yaitu google earth. Pada google earth, sebelumnya telah dibuat titik (tanda) lokasi untuk STO dan BTS menggunakan tools yang disediakan oleh perangkat lunak tersebut yang bernama add placemark. Di dalam tools add placemark, terdapat pengaturan dalam menentukan lokasi STO dan BTS yaitu latitude dan longitude seperti yang sudah dijelaskan pada sub bab lokasi STO – BTS. Setelah pembuatan seluruh STO dan BTS yang digunakan selesai, maka langkah selanjutnya yaitu mengukur dari sumbernya adalah STO ke tujuannya adalah BTS menggunakan tools ruler yang ada pada perangkat lunak tersebut yang dapat diilustrasikan pada gambar 6.

Contoh pengukuran jarak antara STO A dengan BTS B

c. Frekuensi Yang Digunakan
Pada setiap STO dan BTS menggunakan frekuensi yang berbeda-beda. Frekuensi yang dihasilkan pada STO dan BTS dibagi menjadi 2 yaitu frekuensi pemancar (Tx) dan frekuensi penerima (Rx).
Untuk frekuensi yang digunakan untuk pengukuran pada STO dan BTS yaitu berkisar antara 7 GHz – 23 GHz. Dan untuk frekuensi 13 GHz dan 15 GHz dibagi menjadi 2 yaitu frekuensi 13 GHz atau 15 GHz yang LOW untuk frekuensi penerima (Rx) dan untuk frekuensu 13 GHz atau 15 GHz yang HIGH untuk frekuensu pemancar (Tx).

d. Parameter Antena (Jenis Antena Dan Polarisasi)
Untuk proses pengiriman informasi atau komunikasi data secara wireless dibutuhkan perangkat keras yaitu antena. Untuk antena yang digunakan pada STO dan BTS adalah antena microwave.
Antena microwave mempunyai polarisasi horisontal dan polarisasri vertikal. Pengunaan dari polarisasi tersebut berdasarkan rencana (planning) pada saat mendirikan BTS (tower). Apabila jarak antar BTS (tower) yang didirikan tersebut saling berdekatan, maka tidak diperbolehkan menggunakan polarisasi yang sama, apabila sama akan mengganggu proses komunikasi data.
Antena microwave sebagai sarana transmisi memiliki peran penting dalam telekomunikasi termasuk telepon nirkabel, tanpa sarana tersebut bagaimana mungkin pelanggan dapat melakukan hubungan dengan mitranya. Walaupun sinyal informasi sudah diterima BTS, apabila tidak ada sarana yang membawa atau mengirim sinyal tersebut menuju perangkat lain, panggilan atau kiriman SMS, data dan gambar akan gagal atau tidak pernah sampai. Dengan kata lain kegagalan percakapan atau pengiriman SMS, data maupun gambar dapat terjadi kalau radio microwave mengalami gangguan. Gambaran keterkaitan sarana tersebut dapat dilihat di sekitar kita khususnya di daerah perkotaan dimana setiap tower yang berdiri terdapat antena BTS dan radio microwave. Kedua perangkat tersebut saling mendukung, dimana perangkat BTS berhubungan dengan handphone untuk menerima sinyal informasi sedangkan antena microwave membawa atau mengirim sinyal tersebut.

Efektivitas penggunaan antena microwave sangat baik termasuk menjembatani daerah perkotaan yang padat penduduk dan penuh bangunan serta ruang yang tersedia terbatas. Namum pemasangan perangkat cukup mudah, boleh jadi diatap rumah bertingkat dan kualitas sinyal yang dihasilkan sangat baik. Walaupun ada kendala gedung tinggi namun masih ada tersedia ruang untuk membangun tower. Radio microwave juga menjembatani jarak khususnya di luar kota karena dapat dipasang dimana saja apakah diatas bukit, dikaki bukit dengan jarak garis lurus (line of sight) sepanjang 30 km. Paling utama yang harus diperhatikan pada saat pemasangan adalah mencari titik kordinat (pointing) yang paling sempurna diantara dua radio micro sehingga diperoleh line of sight yang optimal. Pengukuran harus dilakukan dengan seksama, kalau tidak pengaruhnya pada kualitas nantinya.
Suatu antena microwave seperti gambar 7 menggunakan polarisasi horisontal dan menggunakan frekuensi tertentu dalam proses penerimaan atau pengiriman sinyal dari BTS ke BTS, BTS ke BSC, BSC ke BSC atau MSC ke MSC. Besarnya Frekuensi yang digunakan untuk proses penerimaan sinyal atau pengiriman sinyal tergantung dari jarak antar BTS, namun frekuensi yang sering digunakan untuk proses transmisi sinyal adalah 7, 8, 13, 15 dan 18 Ghz.

Antena Microwave yang dipasang diatas gedung

Perhitungan Redaman
a. Free Space Loss (Redaman Ruang Bebas)
Free space loss atau redaman ruang bebas adalah hilangnya kekuatan sinyal gelombang elektromagnetik yang dihasilkan dari line of sight melalui ruang bebas (biasanya udara), dengan tidak adanya hambatan untuk menyebabkan refleksi atau difraksi. Ini tidak termasuk faktor-faktor seperti keuntungan dari antena yang digunakan pada pemancar dan penerima, maupun kerugian yang berhubungan dengan ketidaksempurnaan hardware.

a
Proses terjadinya free space loss

Proses terjadinya free space loss (redaman ruang bebas) seperti gambar 8, dapat di analisa yaitu semakin besar frekuensi yang digunakan, maka semakin besar pula redaman yang ditimbulkannya. Hal inilah dikenal dengan adanya LFS (loss free space). Untuk mendapatkan nilainya, digunakan pemodelan Friss, dimana menggunakan sifat antenna isotropis. Sifat antenna isotropis adalah memiliki nilai penerimaan disemua titik adalah sama.

b. Redaman Hujan (Rain Attenuation)
Redaman akibat hujan ini merupakan faktor yang cukup penting yang harus diperhatikan dalam sistem komunikasi micirwave. Hal ini terutama bila sistem komunikasi microwave beoperasi pada frekuensi diatas 10 GHz.
Besarnya redaman akibat hujan. Hujan dipengaruhi besarnya butiran hujan, frekuensi hujan dan polarisasi dari gelombang yang dipancarkan.

Untuk menentukan redaman yang diakibatkan oleh hujan pada suatu site dapat menggunakan teknik SST (Syntetic Storm Technique).
Synthetic Storm adalah pendeskripsian pola hujan dengan intensitas hujan sebagai fungsi jarak sepanjang lintasan dari arah angin. Beberapa parameter yang digunakan dalam metode ini diantaranya :
1. Intensitas hujan (mm/h)
2. Kecepatan angin (km/h)
3. Arah kedatangan angin (º)
Metode ini menghasilkan statistik redaman hujan menggunakan translasi kecepatan angin untuk mengkonversi waktu sampling dari intensitas hujan ke distribusi spatial sepanjang lintasan. Lebih spesifiknya, rata-rata intensitas hujan R(mm/h) yang diukur lewat rain gauge memiliki waktu sampling T(s). Waktu sampling tersebut digunakan untuk mengetahui panjang segmen pada suatu lintasan, dinyatakan dengan persamaan (22):

ΔL =vr.T

Asumsi Arah Multilink

KESIMPULAN
Setelah mengetahui redaman hujan dan parameter lainnya dari perhitungan data koordinat latitude dan longitude menggunakan aplikasi Matlab dengan menggunakan rumus besar probabilitas ketersediaan link. dapat dibuat kesimpulan untuk faktor-faktor yang mempengaruhi probabilitas ketersediaan link yang dihasilkan antar STO dan BTS .

Daftar Pustaka

1. Agung. Prima. W, “Analisa Frekuensi Scalling Pada Redaman Hujan Terhadap Propagasi Gelombang Milimeter”. PENS-ITS. Surabaya. 2006.
Noviyanto. Eko, “Analisa Performansi Transmisi Backbone Microwave PT.Telkomsel Area Kalimantan”. IT TELKOM. 2001.
7. Lembaga Penelitian universitas Teknologi dan Internet, “Path Analysis pada Sistem Transmisi Microwave“. 2004.
8. Aswoyo, Budi, “Propagasi Gelombang Radio”, PENS-ITS, 2000.
9. Sutrisno, “Perencanaan Jaringan Radio Microwave”, 2009
10.Hewlet-Packard, “Digital Modulation in Communication on System – An Introduction”, Application Note, 2008.
11. Zuhdi, Mohd,Ir,Msc, ” Sistem Koordinat Geografik (WGS84 Tahun 1984 Oleh F.W Clarke)”, Materi Kuliah II Sistem Koodinat Geografik.
2. Andi. Abrori. Muhammad, “Perbandingan Prediksi Redaman Hujan Dengan Teknik SST (Synthetic Storm Technique) Dan ITU-R P.530-10.”. PENS –ITS. 2005.
3. Tharek Rahman. Sheroz Khan. 2004, “The Rain Attenuation Prediction Methods From 10 – 37 Ghz Microwave Signals Based on Data Measured in Malasiya”.



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

et cetera
%d blogger menyukai ini: